Jumat, 26 April 2013

KONSEP PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH


Oleh   :   Badar Kumeira

1.  Mengapa Diperlukan Pendidikan Tinggi Jarak Jauh?
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang begitu pesat, khususnya pada bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam banyak hal, ternyata telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan kita sehari-hari, termasuk bidang pendidikan.
Perkembangan TIK telah memberikan dampak yang begitu praktis dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya dalam memudahkan kita untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi. Hal ini juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seluruh sisi kehidupan baik itu ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Khusus dalam bidang Pendidikan, seiring dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap begitu pentingnya fungsi pendidikan dan semakin tingginya minat masyarakat untuk mendapatkan Pendidikan yang layak, sedangkan ada begitu banyak faktor penghalang yang kemudian menyulitkan mereka untuk bisa menikmati pendidikan tinggi secara langsung dengan tatap muka di kelas dan sebagainya dengan berbagai alasan, seperti masalah daya tamp
ung yang tidak bisa secara cepat untuk diatasi, maka pemanfaatan perkembangan IPTEK khususnya perkembangan TIK adalah solusi cerdas yang bisa diambil sebagai alternatif yang bisa dioptimalkan dengan menggunakan sistem PJJ.

A.  Memahami Pendidikan Jarak Jauh
1.  Karakteristik PJJ
Pendidikan Jarak Jauh dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut :
Ø Pelaksanaannya memisahkan guru dan murid.
Ø Penyampaian bahan ajar dilaksanakan dengan bantuan media.
Ø Bahan ajar bersifat “mandiri”.
Ø Peran guru yang lebih bersifat sebagai “fasilitator” dan murid yang dituntut berperan lebih aktif dalam pembelajaran.

2.  PJJ dan Daya Tampung
Permasalahan daya tampung lembaga pendidikan yang begitu rendah di negara kita serta semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk menimba pendidikan yang lebih baik adalah merupakan sebuah masalah yang sangat penting untuk diperhatikan oleh segenap Stake Holder dalam dunia pendidikan, hal ini tentu saja karna begitu sentralnya posisi pendidikan dalam perkembangan bangsa.
Masalah daya tampung memang tidak bisa secara cepat untuk diselesaikan dan kalaupun bisa maka tentu saja membutuhkan dana yang begitu besar, seperti dana untuk pembangunan gedung baru dan masalah rekrutmen tenaga pengajar yang pastinya akan menyebabkan pembengkakan anggaran, belum lagi masalah seperti fasilitas belajar dan lain sebagainya yang tentunya membutuhkan dana yang sangat besar.
Dari segenap penjelasan diatas maka Pendidikan Jarak Jauh adalah Solusi Praktis yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah rendahnya daya tampung di negara kita, apalagi pada masa kini dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat akan menjadikan Pendidikan Jarak Jauh semakin mewah dengan segenap dukungan media teknologi, seperti layanan Internet dan lain sebagainya.

3.  Masalah-masalah Pendidikan Jarak Jauh
Ada beberapa masalah klasik yang dialamtakan pada pelaksanaan PJJ, masalah-masalah tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
  • Kualitas pendidikan.
  • Kurang atau tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswa.
  • Mahasiswa kurang atau tidak mempunyai akses kepada teknologi yang dipakai dalam PJJ seperti komputer (internet), dan lain sebagainya.
  • PJJ biayanya mahal.
  • Masalah-masalah diatas seharusnya tidak perlu ada jika seandainya pelaksanaan PJJ dilakukan dengan baik, karena teknologi yang digunakan dalam PJJ sangat bervariasi antara lain melalui media cetak, audio, video, komputer/ internet serta kombinasi dari empat teknologi tersebut.

B. Pendidikan Jarak Jauh dengan Menggunakan Belajar-e
Evolusi PJJ dapat dikelompokkan sebagai berikut :
  • Era menggunakan bahan ajar cetak.
  • Era menggunakan bahan ajar cetak dibarengi dengan penggunaan teknologi audio, video dan multimedia yang lain.
  • Era menggunakan bahan ajar dan sistem penyampaiannya menggunakan jasa komputer dan fasilitas yang ada, seperti internet dan CD-ROOM.
  • Kombinasi dari ketiga model pembelajaran yang telah djelaskan diatas.
  • Salah satu model PJJ yang pada masa kini semakin berkembang adalah model yang dinamakan Belajar-e yaitu pembelajaran dengan menggunakan bantuan teknologi elektronik, khususnya perangkat komputer, yang juga sering disebut dengan “online course”.

1.  Karakteristik PJJ yang menggunakan Belajar-e
Karakteristik Belajar-e atau yang juga sering disebut dengan online course adalah sebagai berikut :
  • Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
  • Memanfaatkan keunggulan komputer.
  • Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri yang disimpan di komputer.
  • Jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

2.  Kelebihan dan Kekurangan PJJ dengan Belajar-e
Kelebihan-kelebihan PJJ dengan Belajar-e adalah sebagai berikut :
  •  Tersedianya fasilitas moderasi-e.
  • Dosen dan Mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai seberapa jauh bahan ajar sudah dipelajari.
  • Mahasiswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan.
  • Bila mahasiswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, maka mereka dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.
  • Baik dosen maupun mahasiswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
  • Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif.
  • Relatif lebih efisien, minsalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, mereka yang sibuk bekerja, mereka yang bertugas di luar negeri dan lain sebagainya.
Kelemahan PJJ dengan menggunakan model Belajar-e adalah sbagai berikut :
  • Kurangnya interaksi antara Dosen dan Mahasiswa atau antar Mahasiswa itu sendiri, yang mengakibatkan terhambatnya pembentukan nilai-nilai dalam proses belajar dan mengajar.
  • Kecendrungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosialan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
  • Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
  • Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknis pembelajaran konvensional, kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan TIK.
  • Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas pendukung untuk terlaksananya PJJ, seperti listrik, komputerdan lain sebagainya.
  • Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet.
  • Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

C. Study Kelayakan: yang perlu Diperhatikan dalam menyelenggarakan ‘PJJ’
1.  Analisis Kebutuhan (Need Analysis)
Dalam study kelayakan ada beberapa komponen penilaian yang mesti diperhatikan, komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :
·      Apakah secara teknis dapat dilaksanakan
·      Apakah secara ekonomis meguntungkan
·      Apakah secara sosial PJJ atau penggunaan Belajar-e tersebut bisa diterima oleh masyarakat

Dari tiga komponen diatas biasanya masalah ekonomi adalah bagian yang paling sering diperdebatkan, ada yang berpendapat bahwa penyelenggaraan PJJ lebih mahal dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, tapi sebaliknya ada yang berpendapat bahwa PJJ jauh lebih mahal dibandingkan pembelajaran konvensional.
Dalam melakukan analisis biaya PJJ semua komponen biaya harus dihitung. Dalam asandhimitra (2004) perraton menyarankan agar mengelompokkan komponen biaya ini menjadi lima kegiatan yaitu :
§  Melakukan identifikasi semua macam biaya
§  Menghitung biaya capital setiap tahun
§  Menstandarisasi satuan biaya (minsalnya : dollar/unit atau rupiah/unit)
§  Menghitung setiap biaya per-unit (unit cost)
§  Menganalisa dengan fungsi biaya yang dapat dibuat dengan persamaan linear sebagai berikut :
TC = FC + VC(N) dan AC = TC/N = FC/N + VC

2.  Rancangan Instruksional
Dalam menentukan rancangan instruksional perlu dipertimbangkan aspek-aspek berikut ini :
  • Isi pelajaran, cakupan, topik yang relevan dan satuan kredit semester.
  • Analisis siswa, seperti latar belakang pendidikannya, usia, jenis kelamin, status pekerjaan dan sebagainya.
  • Analisis konteks belajar, seperti kompetensi pembelajaran yang ingin dibahas secara mendalam.
  • Analisis pembelajaran, seperti bahan ajar yang dikelompokkan menurut kepentingannya, menyusun tugas-tugas dari yang mudah hingga yang sulit dan sebagainya.
  • Tujuan instruksional
  • Kriteria tes
  • Strategi instruksional, ditetpkan berdasarkan fasilitas yang ada.

3.  Interface Design
Pada tahapan ini perlu dilakukan uji dari platform atau dasar kerja yang telah dirancang. Kadang-kadang model yang telah dirancang dalam HTML-style tidak bisa dioperasikan.

4.  Tahap Pengembangan
Berbagai upaya dalam rangka pengembangan Belajar-e bisa dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas TIK yang tersedia. Hal ini terjadi karena kadang-kadang fasilitas TIK tidak dilengkapi dalam waktu yang bersamaan.

5.  Pelaksanaan
Dalam tahapan ini seringkali ditmeukan berbagai hambatan, minsalnya bagaimana menggunakan alat ajar dengan manajemen yang baik, apakah bahan ajarnya benar-benar memenuhi standar bahan ajar mandiri dan lain sebagainya.

6.  Evaluasi
Tahapan ini memerlukan waktu yang relatif lama, hal ini dikarenkan prototipe perlu dievaluasi secara terus menerus. Proses dari tahapan satu sampai tahapan keenam dapat dilakukan berulang kali, karena prosesnya terjadi secara terus menerus.


2.  Universitas Maya (Virtual): Peluang dan Tantangan.
A.  Pengertian, Konteks dan Praktek Pendidikan
Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah transaksi pendidikan yang ditandai dengan karakteristik sebagai berikut :
  • Jauhnya jarak antara peserta didik dengan pengajar dan pengelola pendidikan.
  • Karena jauhnya jarak tersebut, sistem ini mengandalkan pemanfaatan berbagai media cetak maupun non cetak.
  • Peserta didik belajar secara mandiri dan dapat memanfaatkan berbagai macam bantuan belajar.
  • Peserta didik belajar dimana saja, kapan saja dan dapat memilih program pendidikan menurut kebutuhannya.
  • PJJ menawarkan program pendidikan dengan standar kualitas yang sama bagi seluruh peserta didik.
Perkembangan Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) di indonesia secara historis tidak terlepas dari program penataran guru yang diselenggarakan sejak tahun 1950-an menggunakan sistem korespondensi dan memanfaatkan media radio. Pada tahun 1984, tekanan terhadap akses dan perluasan kesempatan pendidikan tinggi mendorong pemerintah untuk mendirikan Universitas Terbuka (UT) sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ke-45 yang menggunakan sistem pendidikan Pendidikan Jarak Jauh.
Saat didirikan pada tahun 1984, UT menampung 42.000 mahasiswa dan kemudian jumlah mahasiswanya terus meningkat sehingga melebihi 400.000 pada tahun 1997. Jumlah ini kemudian menurun pada tahun 2003 menjadi lebih dari 213.000 mahasiswa. Kecenderungan penurunan initidak terlepas akibat krisis ekonomi semenjak 1998 yang mempengaruhi sebagian besar kelas menengah kebawah pada masyarakat indonesia yang adalah merupakan pengguna jasa UT. Faktor lainnya adalah karena berkurangnya jumlah mahasiswa yang berasal dari kalangan guru sekolah dasar, karena sebagian besar dari mereka telah menyelesaikan Program Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Tantangan kedepan bagi UT serta penyelenggara PTJJ adalah mengembangkan program yang relevan bagi masyarakat serta meningkatkan angka partisipasi dalam pendidikan tinggi nasional melalui penyelenggaraan PTJJ yang berkualitas, termasuk program pendidikan berkelanjutan, sehingga pemerintah dapat terbantu dalam mewujudkan akses universal pada pendidikan tinggi guna membangun daya saing SDM nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945.

B. Prospek dan Tantangan Universitas Maya (UM) di Indonesia
1.  PJJ dan Teknologi baru
Karena teknologi tidak mengenal batas, maka sistem PJJ memiliki peluang untuk memanfaatkannya demi kepentingan institusi maupun mahasiswa. Institusi PJJ pun dikehendaki untuk mengembangkan produk dan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna yang beragam tanpa batas geografi. Penggunaan Belajar-e dalam PJJ dapat dikembangkan untuk meningkatkan pelayanan kepada peserta didik melalui bahan pendukung belajar berbasis jaringan, tutorial online, kuliah online, serta akses mahasiswa terhadap hasil belajar secara online yang lebih baik.

2.  Pengertian dan latar belakang penyelenggaraan Universitas Maya (UM).
Istilah UM mengandung makna yang beragam, UM dapat berarti suatu gagasan yang memungkinkan siapa saja dan dimana saja ia berada dapat belajar pada sebuah universitassmbil bekerja atau berada di rumah. Istilah UM dipergunakan untuk menggambarkan universitas tatap muka yang menjadi fleksibel dalam hal menawarkan program kepada Mahasiswa. UM memungkinkan mobilitas serta partisipasi Mahasiswa pada suatu mata kuliah atau program di berbagai institusi. Apapun pengertian yang diberikan, UM dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan Internet atau menyebarkan pengetahuan melaluijaringan (web).

3.  Operasionalisasi UM.
Operasionalisasi UM menimbulkan konsekuensi serta implikasi dalam berbagai perspektif yaitu antara lain sebagai berikut :
  • Perspektif mahasiswa, UM meningkatkan mobilitas dan interaksi antara Mahasiswa dan Dosen tanpa melalui kegiatan tatap muka serta partisipasi dalam aktivitas belajar.
  • Perspektif Dosen, UM dapat meningkatkan peluang kerja sama, kolaborasi penelitian serta interaksi profesional bagi Dosen serta Mahasiswa yang dibimbingnya.
  • Perspektif Institusi, UM memberikan peluang dalam peningkatan jumlah Mahasiswa, jaringan kemitraan pengurangan biaya dan waktu pelajaran, efisiensi dalam diseminasi dan akses informasi tentang program pendidikan.
  • Perspektif Strategis, UM meningkatkan kesadaran multikultural, internasional serta pengenalan bahasa lain.
  • Perspektif Teknologi, UM memberikan prospek baru dalam pemberian layanan kepada pengguna jasa, penelitian, serta peluang kreatif lainnya.

4.  Hambatan yang dialami dalam penerapan UM.
Berbagai hambatan memang tidak bisa dipungkiri dalam penerapan UM, khusus untuk penerapannya di Indonesia, masalah jaringan internet belum bisa didapatkan oleh seluruh daerah yang ada di negri ini, kalaupun tersedia biaya untuk akses internet masih dirasakan sangat mahal, belum lagi permasalahan teknis seperti masih rendahnya minat masyarakat terhadap ilmu TIK, sehingga menyebabkan tingkat melek TIK di Indonesia masih relatif rendah artinya masalah biaya, aksesibilitas dan aspek teknis masih menjadi kendala utama dalam penerapan UM, khususnya di negara Indoneia.

5.  Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyelenggarakan program UM.
  Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyelenggarakan program UM adalah sebagai berikut :
  • Penyediaan sumber daya yang diperlukan oleh instansi penyelenggara.
  • Kemudahan akses yang dimiliki oleh Mahasiswa.
  • Pemenuhan kondisi dan prasyarat terselenggaranya program UM yang berkualitas oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
  • Kemampuan Mahasiswa menggunakan TIK.

6.  Prospek masa depan UM di indonesia.
Secara pelan tapi pasti, perguruan tinggi-prguruan tinggi di negara kita secara alamiah mulai bergerak ke arah peningkatan penggunaan TIK walaupun tidak harus menjadi UM.
Ada beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan dan harus dilalui dalam memperhatikan prospek masa depan UM di indonesia yaitu sebagai berikut :
  • Masyarakat atau Mahasiswa kita perlu dididik untuk mampu belajar secara mandiri.
  • Pihak yang berkepentingan dalam pendidikan perlu bahu-membahu memikirkan dan turut serta memberikan sumbangan nyata bagi terselenggaranya program UM berkualitas.
  • Universitas perlu saling bekerja sama dalam eksperimen dan inovasi UM, sehingga sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal.
  • Menciptakan UM yang berkualitas secara materi pendidikan dan harus sesuai dengan kaidah dan teori belajar.

C. Sistem Jaminan Kualitas dalam PJJ/ UM
Sistem jaminan kualitas dalam PJJ meliputi seluruh aspek penyelenggaraannya yaitu meliputi :
Ø Kebijakan dan Perencanaan
Ø Sumber Daya Manusia
Ø Manajemen dan Administrasi
Ø Mahasiswa
Ø Desain dan pengembangan program
Ø Desain dan pengembangan mata kuliah
Ø Bantuan belajar
Ø Penilaian hasil belajar
Ø Media pembelajaran




DAFTAR PUSTAKA

Asandhimitra, dkk. 2004. Pendidikan Tinggi Jarak Jauh. Jakarta: Pusat penerbit Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar